Mengenai Saya

Foto saya
•nice ?? •cute ?? •sweet ?? •funny ?? •easy going ?? •simple ?? •sexy ?? •childish ?? •interesting ?? •crazy ?? •smart ?? •multi talent ?? •arrogant ?? •lazy ?? •don't care with anything ??

Daftar Blog Saya

Minggu, 26 Juli 2009

OUT BOUND WAJAH PELAJAR SULSEL 2009

Hari itu tepatnya tanggal 30 November 2008, hari itu hari Minggu yang sangat cerah. 50 besar wajah pelajar harus mengikuti seleksi selanjutnya hari itu. Kita semua berkumpul di Pizza Ria Café untuk mengikuti beberapa tes. Sebelum tes berlangsung, kita semua melakukan pemotretan di lapangan karebosi dengan menggunakan seragam sekolah. Pemotretan itu diulang berkali-kali, menurutku dengan alasan yang tidak jelas. Sempat karena beberapa peserta belum datang, kita semua berfoto-foto dengan gaya patung, kurang sensasi, tapi itulah seninya, dan dari situlah saya dan teman-teman mendapat pengalaman baru.
Setelah pemotretan, kita semua berkumpul lagi di Pizza Ria Café, kita semua pun mengganti pakaian, semua seragam menggunakan kaos putih dan celana jeans panjang, tentunya sepatu cats, supaya terlihat lebih sporty. Setelah itu semuanya pada makan, mengisi perut yang kosong dengan aneka cemilan dan tentunya makanan berat, membasahi kerongkonganku dengan berbagai minuman yang berasa maupun tidak. Dan sekedar untuk menghilangkan keringat yang mengucur-ngucur setelah pemotretan di gunung yang sangat panas, yah.. lebih kurangnya saya menganggap seperti itu.
Perut yang kosong pun sudah terisi dan kerongkonganku yang tadinya kering, kini lembab. Kita semua duduk dibuat berjauh-jauhan, saling membelakangi dan menatap sesekilas. Waktunya tes tertulis tiba, bayanganku mengenai soalnya sangat berbeda, semua yang kupikirkan bertolak belakang, uh… rasanya mau ketawa tapi nggak lucu, mau teriak nggak enak, mau diem aja nanti disangka bisu, ya.. sudah hanya sedikit berkomentar, “hm….. lumayan sulit!” itulah yang terlontar dari bibir manisku. Soal itu terdiri dari 50 nomer, dan termasuk pelajaran SMP bahkan SD, detik itupun saya merasa otak ini sudah amnesia dan kaku untuk pelajaran itu, walaupun ada juga pengetahuan umum. Setelah selesai, saya dan beberapa peserta lain sibuk membahas soal tadi. Dan yakin, banyak salah, tapi saya bersyukur karena dari hal itulah saya dapat pengalaman baru dan latihan UAN.
Saat penjelajahan pun tiba, seakan ingin berkata peta dan peta seperti Dora, karena kita semua akan melakukan perjalanan yang akan membuat kulitku semakin terlihat exotis, kugunakan kata exotis agar tidak terlalu memojokkan warna kulitku. Dan kita pun berbaris bak anak pramuka dan paskibra, tapi tanpa pemimpin yang tegas dan pasukan yang rapi tentunya.
Perjalanan pun dimulai, peta berkata, first destination, kita semua ke lapangan segitiga, lapangan itu terletak di Jalan Balaikota, dan didepan sebuah kantor yang berdiri dibawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, yah… itulah kantor ayahku, jadi tidak heran, dari kecil saya sering bermain di lapangan segitiga itu. Dalam perjalanan yang terik, tiba disana, semua tepat berdiri dibawah pohon, mungkin semua takut kulitnya dimanjakan oleh sang surya yang akan membuatnya semakin exotis. Disana ada Rama dan Sinta, Romeo dan Juliet, serta Dora dan Boots, itulah dua insan manusia yang sedang berbagi cerita cinta dan roman yang takkan pernah terlupakan dibawah pohon rindang dan sejuk dan duduk diatas beberapa tempat duduk yang mungkin sengaja didesain untuk mereka, yang mereka anggap mungkin sedang duduk diatas awan.
Ditempat itu sudah banyak berubah, air mancur yang dulu turun begitu deras, kini tinggalah lumut, tempat yang dulunya bersih, kini dihiasi oleh sampah-sampah yang berkilauan. Semestinya beberapa pasang insan manusia yang sering bernaung disana harus membersihkan dulu baru berbagi cinta. Ada pula lelaki slengean dengan rambut gimbal, yang kusangka adalah seorang rasta man, ternyata bukan, dia seseorang yang perlu disantuni mungkin, seseorang yang memiliki gangguan jiwa.
Temanku pun sampai ada yang pingsan saking terharunya melihat keadaan rasta man itu, atau mungkin karena cuaca sangat panas, dan detik itu juga, kuberi dia minum, yang dimana minum itu juga bukan punyaku. Tapi demi teman, baiklah, kuberi kau mata air untuk menyejukkanmu.
Perjalanan pun dilanjutkan, kita semua berjalan seakan mau demo, dengan membawa spanduk sherly’s magazine, sesekali kuteriakkan, “turunkan harga minyak wangi!” dan berharap ada pemerintah yang mendengar asumsi rakyatnya detik itu. Next destination, kita semua menuju ketempat bersejarah di kotaku tercinta Makassar, yaitu Fort Rotterdam, tempat yang memberi kesan baru. Mungkin memang cuaca sangat panas, tapi saya sangat menikmati, kita semua berkeliling, dan berfoto-foto. Dan lucunya lagi, ada bule yang dihampiri oleh temanku, maybe all my friends thinks they were friendly, tapi ternyata tidak, hm… padahal kalau mau sapa bule nggak perlu jauh-jauh, salah satu juri ada yang mengaku sebagai bule yang sangat tampan.
Setelah itu, kita semua melanjutkan perjalanan, banyak hal yang dapat diperoleh di fort Rotterdam, tapi tidak semua mampu kujelaskan. Sangat berkesan sehingga sulit dihaturkan dengan kata-kata. Akhirnya kita semua pun berkumpul diluar, sebagian peserta membeli minum, dan sang photographer kita yang sempat dianggap rese’, beli es teler nggak bagi-bagi. Tapi itulah hal yang membuatku mendapat inspirasi untuk menulis semua ini. Kita semua pun berjalan menuju tengah kota Makassar, dari situ jelas terlihat kotaku, yang kuanggap masih ada kekurangannya, kurang berwarna dan berasa, dan saat dijalan, got yang begitu besar dipinggir jalan terlihat sangat tidak sehat dan beraroma terapi yang mampu membuat hidung mancung ini menjadi pesek karena tidak lagi mampu menahan aroma terapi tersebut.
Dan akhirnya kembalilah kita semua ke Pizza Ria Café, uh… kaya’nya kerongkongan ini kering lagi, harus segera diberi sensasi dingin. Dan begitu kita semua beristirahat dan berkumpul lagi, secarik kertas dibagikan ke semua peserta, terdiri dari beberapa soal, yang sangat sulit karena harus dijawab dengan jujur. Soal itu berisi pertanyaan yang unik, sipakah teman yang terkompak, tercuek, terjaim, teribut, menyenangkan, dan 3 orang yang dapat diunggulkan di 12 besar.
Setelah secarik kertas itu diberi ukiran, satu demi satu dibacakan, terdengarlah beraneka macam jawaban yang mungkin terkadang membuat kecewa, tertawa, bahkan akan muncul sanggahan dari seseorang yang menganggap dirinya tidak dapat dikandidatkan seperti itu.
Setelah semua selesai dibacakan, kami semua pun membereskan barang, harus segera minggat dari Pizza Ria Café, kita semua pun pulang, dan kita semua berharap, dapat berkumpul bersama lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar