Mengenai Saya

Foto saya
•nice ?? •cute ?? •sweet ?? •funny ?? •easy going ?? •simple ?? •sexy ?? •childish ?? •interesting ?? •crazy ?? •smart ?? •multi talent ?? •arrogant ?? •lazy ?? •don't care with anything ??

Daftar Blog Saya

Rabu, 06 Oktober 2010

KARATE GIAN,GINA,DAN GISEL

Gian, merupakan cowok yang metro seksual, paling takut sama matahari, apalagi sampe’ keringatan, uh…. nggak bakalan dech! Jijik dia sama keringat. Pokoknya muka itu dipoles sampai keliatan kinclong, parahnya lagi, terkadang minyak wanginya berbau bulberry dan strawberry gitu deh!
Gian merupakan siswa pindahan dari kota Surabaya, sekarang mesti mulai beradaptasi dengan sekolah barunya di Jakarta. Gilanya disana dia liat cewek, asli super cantik dan bodynya aduhai… pokoknya jadi cewek mantap banget, nggak ada yang ngalahin. Rambutnya lurus, senyumnya sinis-sinis penuh gairah, tatapannya sumpah dingin sekali..! Penampilanya super keren, pokoknya jalan sama dia nggak malu-maluin, soalnya gayanya mantap.
Cewek itu namanya Gisel, dari nama mungkin udah bisa dibayangin. Saat istirahat tiba, Gian dengan PeDenya mendekati Gisel, tanpa tau nama sebelumnya. Sok ngelap telapak tangannya yang sedikit berkeringat, dan membasahi bibirnya dengan lidahnya yang berbisa.
“Hai… gu.. gue Gian, lo sapa?” pertanyaan Gian itu membuat Gisel risih, dengan tatapan Gian yang sok dan penampilannya yang super rapi dan sangat bersih, jangan-jangan biar kuku juga mengkilat. Aduh… Gian, lo itu jadi cowok setengah banci ya?
Nggak lama Gina datang menghampiri Gian dan Gisel. “Sel.. lo udah dipanggil tuh, lo harus nyiapin fisik lo buat pertandingan besok, lo nggak mau kalah kan dari anak sekolah luar yang belagu banget jadi cewek, walau masih sabuk kuning, intinya lo jago, jadi lo mesti ngebuktiin,” Gian hanya terdiam sendiri, bingung menatap Gisel dan tentunya Gina. Mereka berdua mirip banget, cuman Gina penampilannya agak berantakan, dan tentunya model rambut mereka yang berbeda, tapi berantakan gitu Gina lebih asik dari Gisel, tapi walau kadang Gisel nggak asik, karatenya tetep lebih jago dari Gina. “Kalian kembar ya?” tanya Gian kemudian, “iya.. emangnya kenapa?” tanya Gisel judes, “udah ah.. Sel, iya kita kembar tapi beda,” jawab Gina dengan senyumnya yang terlihat mengejek Gian. Yah.. memeng jelas sekali mereka berbeda, Tuhan nyiptain manusia di dunia ini nggak ada yang sama, biar kembar identik sekalipun, pasti sikapnya berbeda.
Keesokan harinya, Gian terus berpikir, dia merasa malu kalau suka sama cewek yang jago karate, secara dia metro mini, eh… metro seksual, hehe… akhirnya dia sok mau merubah diri, dia telpon temennya yang jago karate, buat minjem sabuk hitamnya, dan Gian berniat sok jadi pelatih buat Gisel sebelum Gisel tanding. Rambut sengaja dijabrikin, tapi salah gaya, soalnya pake miyak kemiri, hehe…
Pas, tiba ditujuan, Gian bingung sendiri mesti ngapain, Gina dan Gisel udah masang stan buat dilatih. Dengan sombongnya Gian berjalan sambil mengikat sabuk hitamnya. “Oh… ternyata dia punya keahlian?” tanya Gisel ke Gina, “jadi, lo suka nih? Jangan dong, gue udah duluan naksir dia!” “nggak kok Gin, lo ambil aja dia, siapa tau tipuan kalau dia jago, bisa aja itu sabuk pinjaman.”
Dari awal mau latihan, Gisel terlihat gelisah, padahal sore hampir tiba, dan sore itulah dia mesti tanding. Gian pun mendekat, untuk latihan awal, dia nyuruh Gina sama Gisel saling berlawanan. Semua yang ada disitu kalau disuruh-suruh pasti nurut, soalnya yang nyuruh pake sabuk hitam, dan semua yang ada disitu masih sabuk kuning, padahal kalau tau aslinya, Gian bakalan ditabok.
Saat mulai berlawanan, baru satu pukulan, Gisel K.O, dia terus memegang perutnya. Gina heran, karena baru ini dia ngerasa Gisel kalah, seneng juga sih menag, tapi tetep aja dia ngerasa heran sama saudaranya itu. Tapi ketika Gisel kesakitan, karena bingung, Gian malah merangkul Gina, jelasnya Gisel iri, “lo gila ya? Gue yang sakit!” “oh… iya… sorry, sini deh!” ajak Gian serasa tawarannya akan direspon baik, “nggak…! Gina aja!” jawab Gisel tegas.
Begitu diantar oleh Gina ke kamar kecil, Gisel ngaku kalau dia lagi “M” dan hari pertama, masih banjir-banjirnya. Waduh… mana tadi yang disikat perutnya Gisel. Gina nggak punya perasaan yah?
Terpaksa, Gina menyisir rapi rambutnya dengan rapi, sedikit memperbaiki senyumannya dan tutur katanya dan menggantikan Gisel. Dan tanpa sepengetahuan Gian, Gisel pulang, dan Gina mengaku dihadapan Gian kalau dia itu Gisel, dan mengatakan kalau Gina pulang, karena ada urusan mendadak, katanya nyokap pengen ditemenin belanja. Jadilah Gian merasa senang, karena mendadak Gina yang jadi Gisel itu minta diajak latian privat, tentunya Gian setuju, sambil nyelam minum air. Nggak lama, Gian bingung, jadi Gina yang ngajarin semua tanpa curiga sedikit pun, udah asik sama orang yang ditaksir sih… Gisel sih nggak ada feeling sama sekali. Jadi Gina ambil kesempatan dengan pura-pura jadi Gisel. Saat latian udah dimulai berjam-jam. Gian langsung aja main menyet, dia ungkapin semua, jelas aja diterima, dan saat itu Gina jujur kalau dia bukan Gisel, betapa kagetnya Gian, mana pipinya langsung dikecup sama Gina. Wajah Gian merah pucat, dingin dan merasa sangat bingung, entah dia harus bagaimana, apakah akan membalas kecupannya? “Ya.. Tuhan, dosa nggak ya, kalau gue dicium, sama orang yang nggak gue suka? Resiko gue bohong deh.. kalau jago karate, ternyata gue juga dibohongin, mending gue nggak tau sebenarnya, karena dari tadi kan udah enak berdua sama dia!” gumannya dalam benaknya.

Sabtu, 19 September 2009

Partner of Crime

Hembusan angin dipagi hari ini, dirangkaian dengan cerahnya sinar matahari yang menembus jendela kamar Chandra. Dengan tersenyum tipis sambil menyingkirkan selimutnya, “aaaaarrrrggghhh!!!!” entah mimpi apa dia semalam, sampai kini tempat tidurnya menjadi basah. Teriakan menggelegar itu disertai rasa panik, membangunkan seluruh warga rumah yang masih menikmati tidurnya. Chandra ini, merupakan cowok keren di sekolah yang penuh dengan talenta, tapi apa kata dunia kalau seluruh warga sekolah tau pagi ini dia ngompol? “Sial… tadi itu aku Cuma mimpi renang, sekarang tempat tidurnya jadi kayak kolam renang!” gerutunya sambil melempar selimutnya yang juga ikut basah. Kamar yang terlihat rapi dan mirip studio musik itu, kini menjadi bau. Maklum, gitaris keren ini, juga menghasilkan urine yang mampu membuat hidung ini bertambah pesek.
“Mama…… Chandra ngompol!” teriaknya memanggil ibunya tanpa rasa malu, cowok 16 tahun ini benar-benar kelewatan. “Chandra…………………… kamu bukan bayi, sapa yang mau beresin tempat tidur kamu hari ini?” “ma… maaf, Chandra khilaf! Pulang sekolah baru Chandra beresin, janji!” katanya sambil menunduk dihadapan ibunya. “Hari ini, kamu nggak usah sekolah, beresin aja kamar kamu, nanti mama ijinin kamu lewat Indra!” “ma… tapi jangan bilang Chandra ngompol yah! Bilang aja sakit!” kata Chandra dengan senyumannya yang sangat lebar. “Sapa juga yang mau bilang-bilang! Malu tau!” kata ibunya lalu meninggalkannya sendiri di kamar.
Di sekolah
“Pagi Indra…. Chandra mana?” tanya Sheila, cewek yang terlihat sangat simpati kepada Chandra, “kok Chandra mulu sih sayang yang ditanyain, Indra kan ada?” kata Indra sambil mengelus dagu Sheila. Chandra dan Indra memang merupakan sahabat dekat, mereka berdua selalu bersama, mereka pun teman sebangku. Banyak yang mengatakan kalau mereka itu partner of crime and kissing, julukan itu sangat pas buat mereka, karena dalam hal kriminal, seperti bolos, nyontek, gangguin orang, berkelahi, dan ngegombal cewek, selalu dilakukan bersama-sama. Tapi sampai detik ini, belum ada satu cewek pun yang berhasil naklukkin hati mereka. Walau pun kesannya mereka nakal, tapi otaknya masih berguna. Chandra yang hobinya ngeband dan penampilannya brutally romantic itu selalu membuat cewek-cewek lose control dan kehilangan malu untuk mendekatinya ataupun memberi perhatian lebih untuk seorang Chandra, sedangkan Indra, cowok yang slengean ini, merupakan anak bintang basket di sekolah, dan memiliki dia juga memiliki hobi bermain futsal. Dia terlalu berani dalam merayu cewek-cewek di sekolah, senyumannya yang sinis dan tatapannya yang tajam, seakan membuat cewek bertanya-tanya, apa maksud dari tatapannya yang dingin itu?
Hari ini bagi Indra terasa sangat sepi, Chandra tidak datang. “Kampreeet! Gue kayak duduk sama setan, temenin gue dong!” pinta Indra kepada Sheila, “kalau Chandra, aku mau… tanpa disuruh, aku inisiatif sendiriiiiiiiii!” “lo kegatelan yah sama Chandra, lo pikir Chandra mau?” “secara, gue kan Sheila!” “terus kalau Sheila kenapa? Sheila On 7?”
Keesokan harinya
Chandra duduk sendiri didepan kelas, “Ndra, kok kemaren gag datang?” tanya Sheila, “kangen?” tanyanya jutek, mendadak indra datang menghampiri mereka, “masih pagi Sheil, kecepetan klu mau ganggu Chandra!” “kenapa sih Ndra? Kan Cuma nanya, nggak ada maksud lain, toh, kita semua temenan, lagian salah yah kalau simpati sama chandra? Atau misalnya aku simpati sama kamu?” tanya sheila dengan emosi, mendadak Chandra berdiri lalu memegang pundak Sheila, “Sheil, aku baik-baik aja, kemaren sakit, kecapean ngeband, makanya nggak datang, sekarang kamu masuk kelas, makasih udah care sama kita!” lalu Sheila meninggalkan Chandra dan Indra. “Thank’s bro! kemaren kenapa lo nggak datang?” tanya Indra sekali lagi dengan memamerkan logat jakartanya, “ngompol bro!” jawab Chandra sambil berbisik, “gila lo…..! klu cewek-cewek pada tau gimana? Malu gue Ndra!” “ibuku juga malu Ndra, masa’ kamu ikut-ikutan malu juga, kesannya ku jadi malu-maluin!” “yah udah, kepaksa gue, untung lo temen gue, bolos yuk!” ajak Indra, “eh… kemaren aku tuh udah nggak sekolah, kalau bolos lagi ketinggalan pelajaran!” “gampang, suruh Sheila ngerjain tugas lo, pasti mau?” akal licik Indra berjalan sangat mulus.
Hari ini, di sekolah, tepatnya di kelas Indra dan Chandra, kedatangan murid baru, siswi yang sangat cantik dan tentunya cerdas. Cewek cantik ini bernama Anggun. Sejak kehadiran cewek itu, Chandra dan Indra tidak pernah bolos lagi, mereka semakin rajin belajar, mereka tidak ingin dicap jelek oleh Anggun, Anggun bagai motivator bagi mereka.
Entah mengapa kelakuan Indra yang selalu ngerayu cewek sudah lenyap bagai ditelan bumi. Bagi Indra, Anggun adalah burung yang terbang-terbang di kepalanya selalu saja mengganggu pikirannya sedangkan bagi Chandra, Anggun bagaikan bintang yang menyinari malamnya dan bagai menyelimutinya di saat dingin.
“Indra, kok gak pernah ajak aku bolos lagi?” tanya Chandra sambil memukul-mukulkan pulpen di atas meja “abis sudah ada pemandangan baru sih!” “maksudmu apa? Jangan bilang Anggun yang mukanya anggun juga?” tanya Chandra dengan wajah yang sedikit garang “ya iyalah, Cuma cowok buta yang bilang dia nggak anggun. Sumpah bro! gue tertarik sampe gak bakalan bolos lagi,” katanya penuh harapan. Wajah Chandra yang biasanya terkesan sangat tampan itu kini berubah menjadi sangat kusut bagaikan kain sutra yang sudah lama tidak terpakai dan berbau sangat apek. Dunia Chandra dan Indra kini berubah, tidak ada lagi kata partner of crime bagi mereka. Mereka adalah rival sejati. Teman sebangku yang akrab dan penuh canda tawa ini kini berubah wujud menjadi siluman tikus dan siluman kucing apapun mereka lakukan untuk mendapatkan perhatian dari Anggun. “Dra, jangan bilang lo ada hati sama Anggun? Kan udah ada tuh Sheila On 7, kenapa harus sama Anggun C. Sasmi,” “tapi Sheila On 7 itu cuma sahabat!”jawab Chandra dengan nada tinggi, “memangnya Anggun mau dijadiin apa?”
Beberapa minggu kemudian
“Oh iya Chandra, tugas matematikamu sudah selesai belum?” tanya Anggun pada Chandra. “udah kenapa mau liat?” tanya Chandra kembali pada Anggun. Mendadak Indra datang memberikan Anggun buku tugas matematikanya, “oh ini udah ada bukunya Indra, makasih sebelumnya yah Chandra!” kata Anggun lalu meninggalkan Chandra dan Indra tanpa jejak kaki. “kamu keterlaluan yah Indra, jangan sok jadi pahlawan deh!” kata Chandra sambil mendorong pundak Indra, seketika emosi Indra langsung melunjak. “Gue Cuma niat ngebantuin,” “keterlaluan tau, pokoknya mulai detik ini ‘You are my enemy’ Indra!”
Hari-hari dilalui dengan rasa benci, seisi sekolah merasa sangat bingung dengan menjauhnya Indra dan Chandra, dua cover boy sekolah itu semakin cuek, tak satupun cewek disekolah yang mereka sapa apalagi rayu. Sheila yang dulunya dekat dengan Chandra, kini menjauh mungkin dia bosan melihat pertengkaran Chandra dan Indra perihal masalah mereka dengan Anggun. Sheila bagai angin lalu di mata Indra dan Chandra.
Sikap dingin keduannya, kini semakin menjadi-jadi, kata-kata kasar selalu terlontar dari mulut mereka. Semakin lama persaingan itu terlihat jelas, Anggun pun sadar Ia menjadi bahan rebutan. Anggun mencoba jujur dia selalu mendekati Chandra dengan perlahan, sikap Anggun itu membuat kepala Chandra semakin besar dan penuh dengan tanda tanya. Hal itu selalu membuat Indra kesal , seakan-akan Chandra lah bintang utama kisah ini inginya Indra memukul Chandra.
Keesokan harinya
Untuk kali ini Anggun mendekati Indra, dengan perlahan dia katakan, kalau detik ini dia sudah punya kekasih. Dia tidak mau melihat Chandra dan Indra bertindak bodoh setiap saat terhadapnya. “Jangan bilang lo jadian sama Chandra?” tanya Indra kesal,” “nggak! Maksudku ngomong gini, pengen buat kalian akur lagi, lagian bodoh sekali perebutin cewek yang udah punya cowok! Kalian cowok keren di sekolah ini, tapi kalau kalian jalannya sendiri-sendiri, gak barengan lagi kelihatannya aneh. Sejenak Indra terdiam, “makasih Anggun, tapi bagi gue dan Chandra, lo tetap motivator.”
Diruang kelas
Saat Chandra berdiam diri di kelas, Indra datang menghampiri teman sebangkunya itu. “Ndra, lo tau nggak kabar gembira hari ini?” tanya Indra lagi dengan senyum sinisnya. “Anggun, dia udah punya pacar kan?” tanya Chandra dengan tampang bodoh “kita berdua buang-buang waktu yah?” tanya Indra, lalu mereka berjalan bersama dan merangkul satu sama lain. “Eh..besok bolos yuuk!” ajak Chandra, “Iya, kangen bolos gue, terus suruh Sheila dan Anggun ngerjain tugas kita!” kata Indra lalu mereka tertawa bersama.

Minggu, 26 Juli 2009

You Always In My Heart

“Aduh sebel banget deh.. masa’ hampir setiap ulangan matematika pasti remedial, ih.. yang bodoh saya apa gurunya, soalnya saya nggak pinter-pinter, dan guru saya juga nggak berhasil buat saya pinter,” guman Icha saat dikamar sambil menatap hasil ulangannya. Mendadak HP Icha berdendang Ria, ternyata SMS dari fans yang ke-360 masuk (ah.. kentara nich, penulisnya boong, hehe..). “met sore gi Ngaps niCh manis?” berhubung si Icha-nya narsis pantium 9 jadi kalau dipuji tambah menjadi-jadi, “ah.. saya nggak punya pulsa, males ah…” uh.. mungkin memang patut diakui kalau Icha memang manis and menarik, walau ada yang bilang dia itu sedikit TOMBOY. Tapi Icha orangnya simpleeeee………….banget, trus cuek abis, kaya’ orang yang nggak punya masalah.
Siswi SMA kelas X ini, memang anak yang super cuek dengan semua hal, tapi Alhamdulillah nilainya nggak buruk-buruk amat, aman-aman aja.

Keesokan harinya
Malam minggu nich.. paling asyik ngumpul bareng ma temen-temen. Tapi kaya’nya sekarang Icha cuma berdua aja deh dengan Thyty, trus sisanya cowok-cowok yang ikutan ngumpul di tempat yang sama. Nggak lama temen Icha yang namanya Firman datang, bawa pasangan baru, maksudnya partner baru, soalnya biasanya dia datangnya sama Yoga atau Indra. Nggak lama ngumpul bareng, Firman nyuruh Icha kenalan sama temennya, ya udah, Icha ngejulurin tangannya “Icha,” “Ardy.” Perkenalan yang simple tapi mungkin bakalan jadi bermakna.

Waktu terasa semakin berlalu, ah.. ini sich lagu. Icha masih terus denger suara-suara yang berbeda-beda, maksudnya banyak dapet salam dari cowok-cowok, kalau masalah salam dari Yoga sich udah biasa, soalnya udah disampaikan dengan beberapa orang. Tapi yang bikin kaget, Icha dapat salam simpati dari Ardy (kok bukan salam XL sich?). terus Icha nge-respon dengan sangat baik. Ce..ille.. pandangan pertama awal aku berjumpa. Nggak lama berawal dari salam-salaman semua semakin nyebar luas (tapi cuma di temen ngumpul-ngumpulnya Icha hehe..). Ardy sekarang lebih sering muncul kalau Icha lagi ngumpul sama temen-temennya. Aduh…… Icha jadi kelepek-kelepek dech gara-gara Ardy, jadi down, jadi aneh dech pokoknya. Tapi tetep aja kalau ketemu cuma senyum-senyum doang, kalau ngomong pun palingan cuma sepatah-dua kata.

Nggak lama kemudian
Icha sama temen-temennya ngerencanain buat jalan rame-rame, sambil pergi No-Mat gitu dech, dan gilanya Ardy juga ikut, ya mau nggak mau Yoga mesti ngalah, soalnya semuanya udah pada bagi-bagi formasi si ini dibonceng ini, si ini sama ini, dan lain-lain, ada yang cewek sama cewek, cowok- sama cowok, dan cewek sama cowok, susah sich.. nggak semua ceweknya bisa ngendarain motor. Dan Icha kebagiannya sama Ardy (aduh…. So sweet).
Tiba dech.. waktunya, aduh semuanya kok pada nga-ret sich,, dan lebih gilanya yang pake jam karet itu malah yang cowoknya, apa mereka luluran dulu ya, terus Pedi-Medi?, cape’ nunggunya. Tapi akhirnya tiba juga, aduh Icha tegang nich.. mana mesti sama Ardy, dag-dig-dug-dag-dig-dug, suara jantung apa gendang ya?, terus Icha kaku banget. Awal perjalanan sich mulus-mulus aja, tapi lama-kelamaan hujan turun membasahi dunia, memberi rasa dingin yang menusuk hingga ke jiwa, ye.. ini sich puisi. Terpaksa Icha sama Ardy mesti berteduh dulu, tapi ke pisah dengan temen-temen yang lain. Aduh Icha ngerasa boring banget, bayangin mesti berdua dengan orang yang belum begitu dikenal, di tempat berteduh yang nggak enak lagi, mau ngomong apa ya?, mendadak sikap care-nya Ardy muncul, “Cha’ jangan jongkok nanti kena hujan!”, “Cha’ kedinginan nggak?, kalau kedinginan bilang ya!.” Ah.. pokoknya macem-macem dech!, tapi Icha tetep aja boring, bahkan Icha sempat ajak pindah tempat karena Icha nggak suka disitu, selain banyak orang, sempit, terus becek. Tapi mau gimana lagi hujannya nggak berhenti-berhenti.
Nggak lama hujannya agak reda, jadi Icha sama Ardy lanjut jalan lagi, uh… BeTe-nya sampai disana penuh, banyak orang, terus kehabisan tiket, aduh… sial banget nich! cuma datang buang kentut doang, gara-gara hujan nich jadi nyampe’nya kelamaan. Tapi selain buang kentut semuanya pada makan dulu terus pulang.
Dalam perjalanan pulang Icha udah nggak kaku lagi, jadi lebih santai dech..!, dan tau nggak yang jadi bahan cerita apa?, jawabannya IDENTITAS, secara, belum kenal akrab dan tentunya nggak tau satu sama lain.

***

Ah... masalah hujan-hujan itu udah jadi memory tersendiri dech buat Icha, ehm.. nggak tau kalau Ardy, tapi kaya’nya demikian, terus sekarang mereka sering sms-an lho!.
Tapi selang beberapa lama, ternyata Ardy udah punya seseorang yang mengisi hari-harinya, jadi maksudnya deketin Icha itu apa?, mau jadiin Icha yang kedua, terpaksa Icha agak menjauh.
Karena sama-sama seperti menjauh, Yoga mendekat lagi dech.. tapi Icha nggak bisa bohongin dirinya kalau Ardy itu masih ada di hatinya, Yoga sich.. berharap lebih dari Icha, tapi nggak lama kemudian, ada temennya Firman yang namanya Beni ngedeketin Icha, sebenarnya baru kenal juga sich.. Icha pake pelet kali ya?, dan Yoga ngalah lagi, tapi karena nggak tahan Yoga ngungkapin semuanya, dan akhirnya Icha ada feeling, udah mulai care dan dia nerima gitu aja, akhirnya Icha jalan dech sama Yoga, ada rasa nggak enak sich.. sama Beni, tapi akhirnya Icha sama Beni udah jadi partner yang ok terus semakin akrab.

Semua berlalu, perlahan Ardy pudar, tapi Icha belum sepenuhnya punya hati buat Yoga. Sekarang Icha sama Yoga udah lama jalan, sempat saat Icha lagi pengen sama Yoga, Ardy mendadak hadir kembali, mungkin terlihat lebih cuek, tapi saat itu Icha ngerasa kangen juga pengen ngeliat Ardy lagi, tapi sayang, cuma sapaan kecil yang terucap.

Ending
Kenapa semua terlambat, ternyata Ardy udah berakhir dengan seseorang yang sempat mengisi hari-harinya itu, dan Ardy sempat curhat ke Thyty kalau dulu memang dia punya pacar, tapi hatinya buat Icha, dan sampai detik ini dia nggak bisa lupain Icha, apa lagi dia juga ngerasain sakit hati yang sempat dirasakan Icha, kalau dia masih belum bisa nerima seutuhnya Icha jalan sama Yoga, dan mungkin Yoga nggak tau kalau hati Icha cuma buat Ardy, Icha tetep berharap, semoga Ardy tau kalau Icha menyimpan perasaan yang sama, tapi Icha nggak pernah mau nyakitin Yoga, dia akan tetep nunjukin simpatinya dan menjalani hari-harinya bersama Yoga, dan Icha akui kini Yoga telah mengisi hatinya, but don’t worry “Icha still loving you Ardy.”

Liburan Seru Bareng IM3

IM3, merupakan salah satu kartu perdana dari Indosat yang sangat digemari para muda-mudi, tentunya selain karena tarif nelpon dan sms-nya yang murah, internetan dengan IM3 juga seru abiiis. Lagi-lagi IM3 membuat suasana jadi lebih seru, IM3 bukan Cuma bisa ngasi tarif murah aja, IM3 juga bisa ngadain event yang seru buat para pelajar di 10 kota besar di Indonesia. Yaitu, IM3 Mobile Academy. Yang buat event ini makin seru, karena ada aku, hehe.

IM3 Mobile Academy merupakan acara liburan bareng IM3, dan pastinya liburan ini benar-benar diwarnai dengan keceriaan, semua pelajar yang cakep-cakep dan cantik-cantik serta berbakat ikut berkumpul disini, kita semua dapat banyak pengalaman yang hebat. Liburan ini juga, bakalan jadi liburan yang paling berkesan, yang buat kita semua dapat memperluas pergaulan dan wawasan. IM3 memang cerdas, karena event-nya ini mampu mengumpulkan pelajar-pelajar dari tanah airku tercinta Indonesia, yang buat kita bisa saling tukar pikiran. Terima kasih IM3.

OUT BOUND WAJAH PELAJAR SULSEL 2009

Hari itu tepatnya tanggal 30 November 2008, hari itu hari Minggu yang sangat cerah. 50 besar wajah pelajar harus mengikuti seleksi selanjutnya hari itu. Kita semua berkumpul di Pizza Ria Café untuk mengikuti beberapa tes. Sebelum tes berlangsung, kita semua melakukan pemotretan di lapangan karebosi dengan menggunakan seragam sekolah. Pemotretan itu diulang berkali-kali, menurutku dengan alasan yang tidak jelas. Sempat karena beberapa peserta belum datang, kita semua berfoto-foto dengan gaya patung, kurang sensasi, tapi itulah seninya, dan dari situlah saya dan teman-teman mendapat pengalaman baru.
Setelah pemotretan, kita semua berkumpul lagi di Pizza Ria Café, kita semua pun mengganti pakaian, semua seragam menggunakan kaos putih dan celana jeans panjang, tentunya sepatu cats, supaya terlihat lebih sporty. Setelah itu semuanya pada makan, mengisi perut yang kosong dengan aneka cemilan dan tentunya makanan berat, membasahi kerongkonganku dengan berbagai minuman yang berasa maupun tidak. Dan sekedar untuk menghilangkan keringat yang mengucur-ngucur setelah pemotretan di gunung yang sangat panas, yah.. lebih kurangnya saya menganggap seperti itu.
Perut yang kosong pun sudah terisi dan kerongkonganku yang tadinya kering, kini lembab. Kita semua duduk dibuat berjauh-jauhan, saling membelakangi dan menatap sesekilas. Waktunya tes tertulis tiba, bayanganku mengenai soalnya sangat berbeda, semua yang kupikirkan bertolak belakang, uh… rasanya mau ketawa tapi nggak lucu, mau teriak nggak enak, mau diem aja nanti disangka bisu, ya.. sudah hanya sedikit berkomentar, “hm….. lumayan sulit!” itulah yang terlontar dari bibir manisku. Soal itu terdiri dari 50 nomer, dan termasuk pelajaran SMP bahkan SD, detik itupun saya merasa otak ini sudah amnesia dan kaku untuk pelajaran itu, walaupun ada juga pengetahuan umum. Setelah selesai, saya dan beberapa peserta lain sibuk membahas soal tadi. Dan yakin, banyak salah, tapi saya bersyukur karena dari hal itulah saya dapat pengalaman baru dan latihan UAN.
Saat penjelajahan pun tiba, seakan ingin berkata peta dan peta seperti Dora, karena kita semua akan melakukan perjalanan yang akan membuat kulitku semakin terlihat exotis, kugunakan kata exotis agar tidak terlalu memojokkan warna kulitku. Dan kita pun berbaris bak anak pramuka dan paskibra, tapi tanpa pemimpin yang tegas dan pasukan yang rapi tentunya.
Perjalanan pun dimulai, peta berkata, first destination, kita semua ke lapangan segitiga, lapangan itu terletak di Jalan Balaikota, dan didepan sebuah kantor yang berdiri dibawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan, yah… itulah kantor ayahku, jadi tidak heran, dari kecil saya sering bermain di lapangan segitiga itu. Dalam perjalanan yang terik, tiba disana, semua tepat berdiri dibawah pohon, mungkin semua takut kulitnya dimanjakan oleh sang surya yang akan membuatnya semakin exotis. Disana ada Rama dan Sinta, Romeo dan Juliet, serta Dora dan Boots, itulah dua insan manusia yang sedang berbagi cerita cinta dan roman yang takkan pernah terlupakan dibawah pohon rindang dan sejuk dan duduk diatas beberapa tempat duduk yang mungkin sengaja didesain untuk mereka, yang mereka anggap mungkin sedang duduk diatas awan.
Ditempat itu sudah banyak berubah, air mancur yang dulu turun begitu deras, kini tinggalah lumut, tempat yang dulunya bersih, kini dihiasi oleh sampah-sampah yang berkilauan. Semestinya beberapa pasang insan manusia yang sering bernaung disana harus membersihkan dulu baru berbagi cinta. Ada pula lelaki slengean dengan rambut gimbal, yang kusangka adalah seorang rasta man, ternyata bukan, dia seseorang yang perlu disantuni mungkin, seseorang yang memiliki gangguan jiwa.
Temanku pun sampai ada yang pingsan saking terharunya melihat keadaan rasta man itu, atau mungkin karena cuaca sangat panas, dan detik itu juga, kuberi dia minum, yang dimana minum itu juga bukan punyaku. Tapi demi teman, baiklah, kuberi kau mata air untuk menyejukkanmu.
Perjalanan pun dilanjutkan, kita semua berjalan seakan mau demo, dengan membawa spanduk sherly’s magazine, sesekali kuteriakkan, “turunkan harga minyak wangi!” dan berharap ada pemerintah yang mendengar asumsi rakyatnya detik itu. Next destination, kita semua menuju ketempat bersejarah di kotaku tercinta Makassar, yaitu Fort Rotterdam, tempat yang memberi kesan baru. Mungkin memang cuaca sangat panas, tapi saya sangat menikmati, kita semua berkeliling, dan berfoto-foto. Dan lucunya lagi, ada bule yang dihampiri oleh temanku, maybe all my friends thinks they were friendly, tapi ternyata tidak, hm… padahal kalau mau sapa bule nggak perlu jauh-jauh, salah satu juri ada yang mengaku sebagai bule yang sangat tampan.
Setelah itu, kita semua melanjutkan perjalanan, banyak hal yang dapat diperoleh di fort Rotterdam, tapi tidak semua mampu kujelaskan. Sangat berkesan sehingga sulit dihaturkan dengan kata-kata. Akhirnya kita semua pun berkumpul diluar, sebagian peserta membeli minum, dan sang photographer kita yang sempat dianggap rese’, beli es teler nggak bagi-bagi. Tapi itulah hal yang membuatku mendapat inspirasi untuk menulis semua ini. Kita semua pun berjalan menuju tengah kota Makassar, dari situ jelas terlihat kotaku, yang kuanggap masih ada kekurangannya, kurang berwarna dan berasa, dan saat dijalan, got yang begitu besar dipinggir jalan terlihat sangat tidak sehat dan beraroma terapi yang mampu membuat hidung mancung ini menjadi pesek karena tidak lagi mampu menahan aroma terapi tersebut.
Dan akhirnya kembalilah kita semua ke Pizza Ria Café, uh… kaya’nya kerongkongan ini kering lagi, harus segera diberi sensasi dingin. Dan begitu kita semua beristirahat dan berkumpul lagi, secarik kertas dibagikan ke semua peserta, terdiri dari beberapa soal, yang sangat sulit karena harus dijawab dengan jujur. Soal itu berisi pertanyaan yang unik, sipakah teman yang terkompak, tercuek, terjaim, teribut, menyenangkan, dan 3 orang yang dapat diunggulkan di 12 besar.
Setelah secarik kertas itu diberi ukiran, satu demi satu dibacakan, terdengarlah beraneka macam jawaban yang mungkin terkadang membuat kecewa, tertawa, bahkan akan muncul sanggahan dari seseorang yang menganggap dirinya tidak dapat dikandidatkan seperti itu.
Setelah semua selesai dibacakan, kami semua pun membereskan barang, harus segera minggat dari Pizza Ria Café, kita semua pun pulang, dan kita semua berharap, dapat berkumpul bersama lagi.

my sweetiest face





Cha… cha,,,, icha,, ntu namaqwuuuu,, blog ini bakalan qwu isi dengan segudang karya tulisqwuuu n hasil foto2qwuuuu

about me



Ini merupakan band favoritqwuuuu,, sumpah keren, n qwuuu suka banget stylex….

Band favorit kmuw dalam negriii apa?